Salah satu faktor penting yang menjadi kebutuhan dalam melakukan kajian High Conservation Value Forest (HCVF) adalah informasi mengenai kondisi penutupan lahan (landcover) di wilayah kajian HCVF yang dilakukan. Nah, pada kajian HCVF yang beberapa waktu lalu saya terlibat, yakni di lokasi landscape Maruwai. Analisis tutupan lahan menjadi prioritas untuk dilakukan, dalam hal ini difokuskan pada analisis type vegetasi.
Adapun sebagai dasar analisis, citra Landsat ETM menjadi pilihan karena pertimbangan ketersediaan data serta cakupannya. Interpretasi yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode screen interpretation. Interpretasi dimulai dengan melakukan penajaman citra standar 30m dengan citra pankromatic band yang memiliki resolusi 15m. Adapun kombinasi band yang digunakan adalah 3, 4 dan 5 mid infra. Kombinasi band ini memudahkan dalam membedakan tekstur antara type vegetasi hutan dipterokarpa, hutan pegunungan, dan hutan kerangas.
Pengerjaan intepretasi citra satelit merupakan pengembangan dari analisis sebelumnya yang telah dikerjakan oleh salah satu konsultan di wilayah Maruwai, terutama di kawasan konsesi pertambangan BHP Billiton. Dari hasil interpretasi didapatkan 4 (empat) jenis tipe vegetasi yang berhasil dipetakan.
Hasil pemetaan tersebut, dipadukan dengan hasil analisis lain yang juga melakukan pemetaan vegetasi untuk wilayah yang lebih luas. Depatemen Kehutanan (2004-2005), Tropenbos (2005) dan WWF (2007) telah melakukan analisis vegetasi untuk seluruh Kalimantan (Borneo). Dengan melakukan updating dan recoding, pemetaan vegetasi yang lebih detail berhasil dilakukan.
Untuk lebih memberikan hasil yang lebih realistis, zonasi ketinggian digunakan untuk membedakan tipe vegetasi, zonasi ketinggian didapatkan dari hasil deliniasi menggunakan SRTM, adapun pembagian zonasi didasarkan atas prinsip pembagian zona tipe hutan dan suksesi tumbuhan (Mackinnon et al, 1996)
Satu hal yang juga penting dalam pemetaan vegetasi ini adalah definisi mengenai hutan sekunder, hutan primer serta hutan yang terdegradasi. Untuk menghindari pemehaman yang rancu, pada kajian, tipe hutan terdegradasi diklasifikasikan sebagai hutan bekas tebangan (logged forest) dan tidak terdegradasi (unlogged forest), pemisahan ini berbeda denga tipe vegetasi ang ada.
Akhirnya setelah beberapa waktu dilakukan analisis, secara umum hasil statistik dari analisis tutupan lahan adalah sebagai berikut :
|
Land Cover |
Hectares |
Percent |
|
Bare Soil |
6371.9 |
0.2 |
|
Grassland |
69.2 |
0.0 |
|
Kerangas |
61214.4 |
2.1 |
|
Kerangas / MDF |
2125.0 |
0.1 |
|
Logged Hill MDF |
194,016.1 |
6.7 |
|
Logged Lowland MDF |
1,190,859.7 |
41.2 |
|
Plantation |
7210.8 |
0.2 |
|
Scrub / Ladang |
484,616.9 |
16.8 |
|
Settlement |
236.1 |
0.0 |
|
Sub-Montane Forest |
162,291.9 |
5.6 |
|
Swamp |
41.6 |
0.0 |
|
Unlogged Hill MDF |
355,561.7 |
12.3 |
|
Unlogged Lowland MDF |
411,727.2 |
14.2 |
|
Upper Montane Forest |
9642.8 |
0.3 |
|
Urban |
114.2 |
0.0 |
|
Water |
5180.67 |
0.2 |
|
Total |
2,891,386.6 |
100.0 |
Dan berikut ini adalah hasil dari pemetaan vegetasi di landskap Maruwai.