Review : Taman Nasional Kayan Mentarang

Ului Rock - PujunganHampir 4 tahun saya berkeliling kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Mulai dari Data Dian, Long Nawang di bagian selatan , Long Pujungan dan Long Alango di bagian tengah hingga Krayan dan Lumbis di bagian utara kawasan. Pekerjaan saya di WWF Indonesia memang mengharuskan untuk selalu berkeliling kawasan.

Pekerjaan penataan batas luar kawasan, dengan berbabagai konsultasi dan dialog di tingkat desa dan wilayah adat merupakan keharusan dalam mendapatkan pengelolaan kawasan yang partisipatif. Terkadang selama 5 jam menerbangi kawasan untuk melakukan monitoring juga menjadi perjalanan rutin setiap tahun.

Disamping kondisi kawasan yang masih sangat terpencil. Ternyata kawasan ini menyimpan pesona wisata yang luar biasa. Jadi saya sendiri tidak pernah bosan untuk melakukan perjalanan di ombing-ambing perahu ketinting , diguncang pesawat Cessna maupun berpeluh berjalan kaki di tengah hutan yang masih menawan.

Berikut ini saya ambilkan informasi menganai ekowisata di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang dari brosur panduan Ekowisata TNKM (WWF Indonesia)

The Kayan Mentarang National Park is the largest conservation area on the island of Borneo. It is not only an area covered with rich montane tropical forests and extraordinary biodiversity, it is also the land of the Dayak people where history and culture have helped shape the natural landscape.

Taman Nasional Kayan Mentarang adalah kawasan konservasi terluas yang ada di pulau Kalimantan. Taman nasional ini bukan hanya merupakan kawasan yg ditutupi oleh hutan tropis pegunungan yang sangat kaya dengan keanekaragaman hayati, tapi juga merupakan tanah tempat tinggal masyarakat suku Dayak yang mana sejarah dan budayanya telah turut membentuk bentang alamnya.

The Kayan Mentarang National Park straddles the far interior of East Kalimantan bordering Sarawak (Malaysia) to the west and Sabah (Malaysia) to the north. Over 60% of the park area lies within the boundaries of the District of Malinau. Some areas of the park are ideal spots for ecotourism expeditions, traditional Dayak culture, river adventures and forest trekking. The sub-districts of Pujungan and Bahau Hulu, District of Malinau, are located in the very far interior of Borneo. This is part of the Heartland of Dayak Kenyah and other groups who settled this area since hundreds of years ago.

Taman Nasional Kayan Mentarang membentang di pedalaman Kalimantan Timur berbatasan dengan Sarawak (Malaysia) di sebelah barat dan Sabah (Malaysia) di sebelah utara. Lebih dari 60% kawasan taman nasional ini berada di dalam Kabupaten Malinau. Beberapa daerah dalam taman nasional ini merupakan tempat tujuan yg sangat ideal untuk petualangan wisata alam, menyaksikan budaya tradisional suku Dayak, arung jeram dan trekking dalam hutan alam. Kecamatan Pujungan dan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, terletak jauh di pedalaman Kalimantan. Daerah ini merupakan bagian dari Tanah Leluhur Dayak Kenyah dan kelompok suku Dayak lain yang telah mendiami kawasan ini sejak ratusan tahun lalu.

HULU PUJUNGAN

Kuala Bum Waterfall

Kuala Bum Waterfall

The tiny village of Long Jelet is at the confluence of the Jelet and Pujungan rivers, a 4-hour trip by motorized canoe from Long Pujungan. There is a special and friendly atmosphere in this village which is the gate to magnificent jungle and historical sites (cave burials) in the interior of Borneo. The local ecotourism committee has opened various trails to majestic waterfalls and peaks in the area. Accommodation is in the houses of local people. Facilities are modest but adequate, and the experience unforgettable. Trekking trails also link the villages of Long Pujungan, Ketaman, Long Jelet, and Pua. Local guides are ready to accompany tourists in the discovery of pristine forests and wild rivers.

Long Jelet adalah kampung kecil yang berada di muara Sungai Jelet dan Sungai Pujungan, dicapai dengan 4 jam perjalanan menggunakan perahu ketinting dari Long Pujungan. Sangat terasa suasana khas dan ramah di kampung ini yang juga merupakan pintu gerbang menuju rimba raya dan situs-situs bersejarah (seperti kuburan kuno di pedalaman Borneo. Panitia Ekowisata lokal telah membuka jalan-jalan setapak menuju ke air terjun yang sangat indah dan menuju puncak-puncak gunung yang ada di daerah ini. Akomodasi disediakan di rumah-rumah masyarakat setempat. Fasilitas yang ada sederhana tetapi memadai, dan yang pasti pengalaman di daerah ini tak akan terlupakan. Jalan-jalan setapak untuk trekking dalam hutan juga dapat menghubungkan beberapa kampung seperti Long Pujungan, Ketaman, Long Jelet, dan Pua. Pemandu lokal selalu siap untuk menemani para wisatawan menjelajahi hutan yg masih asli dan sungai-sungainya yang menantang.

Ecotourism destinations in Hulu Pujungan

Tempat tujuan wisata alam di Hulu Pujungan

1. Batu Ului, or the Ului rock, is a stony peak soaring from the bank of the Pujungan River, upstream from the village of Long Jelet. The hike to the summit takes about 2 ½ hour from the place where the trekkers leave the motorized canoe. The trail to the top climbs the forested slopes. The terrain is at times steep and slippery, but the reward for those who make it to the top is a magnificent view over the Pujungan River valley and the surrounding mountain peaks. Expert local guides will assist the tourists.

Batu Ului adalah puncak gunung batu yang menjulang di pinggiran Sungai Pujungan, di bagian hulu kampung Long Jelet. Perjalanan kaki ke puncak gunung ini ditempuh dalam 2,5 jam dari tempat perhentian perahu ketinting. Puncak gunung dicapai dengan mendaki lereng berhutan yang terkadang terjal dan licin, tetapi pengalaman yang akan didapatkan oleh pendaki yang berhasil mencapai puncak sangat menakjubkan. Dari puncak gunung akan terbentang pemandangan alam yang sangat indah dari lembah Sungai Pujungan dan daerah di sekitar puncak. Pemandu lokal yang berpengalaman akan membantu wisatawan.

Roundtrip from Long Jelet: 6-7 hours

Difficulty of the trek: medium

Things to bring: good hiking shoes and drinking water; long sleeves are recommended.

Cost of the day tour: Rp 350,000 for 1 to 2 persons, inclusive of meal, guide fees, and boat transportation from Long Jelet.

Perjalanan pulang pergi (PP) dari Long Jelet : 6-7 jam

Tingkat kesulitan trek : sedang

Barang yang perlu dibawa : sepatu hiking yang baik dan air minum, serta baju panjang lengan.

Biaya tur satu hari : Rp. 350.000 untuk 1-2 orang, termasuk makan, biaya pemandu, dan biaya perahu dari Long Jelet.

2. U’ung Melu’ung waterfall. The enclave and view of this 50-meter high waterfall is stunning. The water drops from the high ridge and forms a deep pool where visitors can enjoy a cool break from the heat and humidity. In the area, it is easy to encounter wildlife attracted by the presence of salt leaks. The trail to the waterfall takes a short 30 minutes from the bank of the Pujungan River. From Long Jelet, a motorized canoe can take tourists to the place where the trail departs in 1 hour of navigation through rapids. Not far from the Melu’ung waterfall, a trail takes trekkers up a steep terrain to ancient cave burials at the small Lidem River.

Local guides will accompany tourists.

Air Terjun U’ung Melu’ung. Tempat dan pemandangan alam di air terjun setinggi 50 meter ini sangat mempesona. Air jatuh dari punggung bukit yang tinggi dan membentuk dimana wisatawan dapat menikmati kesejukan beristirahat dari panas dan kelembaban. Di daerah ini sangat mudah berjumpa dengan binatang liar yang tertarik oleh keberadaan sumber air asin. Jalan setapak menuju air terjun ditempuh dalam waktu 30 menit dari pinggir Sungai Pujungan. Dari Long Jelet, perahu ketinting dapat mengantarkan wisatawan ke tempat ini dengan perjalanan selama 1 jam mengarungi jeram dan arus sungai yang deras. Tak jauh dari air terjun Melu’ung, jalan yang sedikit curam akan menuju ke areal kuburan goa kuno di sungai kecil yang bernama Sungai Lidem. Pemandu lokal akan menemani para wisatawan.

Roundtrip from Long Jelet: 3-4 hours

Difficulty of the trek: easy

Things to bring: good hiking shoes; insect repellent, and drinking water; long sleeves are also recommended.

Cost of the day tour: Rp 400,000 for 1 to 2 persons, inclusive of meal, guide fees, and boat transportation from Long Jelet.

Perjalanan PP dari Long Jelet : 3-4 jam

Tingkat kesulitan trek : mudah

Barang yang perlu dibawa : sepatu hiking bagus, obat nyamuk, air minum, baju lengan panjang.

Biaya perjalanan satu hari : Rp.400.000 untuk 1-2 orang, sudah termasuk makan, biaya pemandu, dan biaya perahu dari Long Jelet.

3. Bum River waterfall. The hike to this 60-70 meter high waterfall is a perfect immersion in the nature of the Hulu Pujungan. The round-trip trek takes 2 days from Long Jelet with an overnight stay in a natural camping ground (basic wooden platform for resting is in place) at a crossroad in direction of the waterfall and other nearby natural attractions. The trail climbs the steep slope from the river and then wanders through old swidden sites to the waterfall. There are ancient cave burials up on the high limestone cliff that borders the valley.

Local guides will assist tourists on the trek.

Air Terjun Sungai Bum. Perjalanan ke air terjun setinggi 60-70 m ini merupakan pengalaman sempurna menelusuri alam di Hulu Pujungan. Perjalanan bolak balik dari Long Jelet ditempuh dalam 2 hari diselingi dengan menginap di areal perkemahan yang sederhana (panggung peristirahatan dari kayu), terletak di persimpangan menuju air terjun dan juga tempat wisata alam lain. Dari sungai, jalan setapak akan mendaki lereng curam, lalu menyeberangi daerah hutan dan bekas ladang menuju ke air terjun. Ada kuburan goa kuno di jurang batu kapur tinggi yang membatasi lembah. Pemandu lokal akan membantu para wisatawan dalam trekking ini.

Roundtrip from Long Jelet: 1 ½ day

Difficulty of the trek: medium

Things to bring: good hiking shoes, insect repellent, flashlight, mosquito net and sleeping bag, and drinking water; long sleeves are also recommended.

Cost of the tour: Rp 400,000 for 1 to 2 persons, inclusive of meals, guide fees, and boat transportation from Long Jelet.

Perjalanan PP dari Long Jelet : 1 ½ hari

Tingkat kesulitan trek : sedang

Barang yang perlu dibawa : sepatu hiking bagus, obat nyamuk, senter, kelambu dan sleeping bag, air minum, serta baju lengan panjang.

Biaya tur : Rp.400.000 untuk 1-2 orang, sudah termasuk makan, biaya pemandu, dan biaya perahu dari Long Jelet.

BAHAU HULU

Kenyah Dancer - Apauping

Kenyah Dancer - Apauping

In the Bahau Hulu sub-district, not too far from the village of Long Alango, the Tropical Forest Research Station of Lalut Birai will surprise visitors. Lalut Birai has served as a research and documentation center on the ecology of tropical forest for over 10 years. The research station was built by local people and WWF-Indonesia in the tana ulen, the traditionally protected forest of the people of Long Alango, in 1991. Continuing upstream along the Bahau River, visitors will pass the village of Long Kemuat, and the burial site of Long Pulung. In Long Berini, it is possible to witness Dayak Kenyah cultural revival and traditional carving. More traditional dancing awaits travelers in the village of Apau Ping, the last settlement before the border with Sarawak. The grasslands of Long Tua, upstream from the village of Apau Ping, is a unique place and one of the best wildlife watching areas in the Kayan Mentarang National Park. From Apau Ping, trekkers can also arrange long-distance forest treks to Long Layu, Krayan Hulu, the highlands to the north.

Di Kecamatan Bahau Hulu, tak jauh dari desa Long Alango, Stasiun Penelitian Hutan Tropis Lalut Birai akan memukau wisatawan. Kawasan Lalut Birai telah menjadi pusat penelitian dan dokumentasi tentang ekologi hutan tropis lebih dari 10 tahun. Stasiun penelitian ini didirikan pada tahun 1991 oleh masyarakat lokal bersama dengan WWF Indonesia di kawasan tana’ ulen, hutan adat yang dilindungi oleh masyarakat Long Alango. Melanjutkan perjalanan ke hulu sungai, wisatawan akan melewati kampung Long Kemuat, dan areal kuburan batu di Long Pulung. Di Long Berini, wisatawan dapat menyaksikan kebangkitan budaya Dayak Kenyah dan ukiran tradisional mereka. Tarian-tarian tradisional akan menyambut wisatawan di desa Apau Ping, pemukiman terakhir sebelum perbatasan dengan Sarawak. Padang rumput di Long Tua, di hulu Desa Apau Ping, adalah tempat yang sangat unik dan merupakan satu dari kawasan pengamatan kehidupan liar terbaik di dalam Taman Nasional Kayan Mentarang. Dari Apau Ping, para wisatawan juga dapat meneruskan penjelajahan jauh melalui hutan menuju ke Long Layu, Krayan Hulu, dataran tinggi di sebelah utara.

Ecotourism destinations in Bahau Hulu

Tempat tujuan wisata alam di Bahau Hulu

1. Lalut Birai Tropical Forest Research Station

Stasiun Penelitian Hutan Tropis Lalu Birai

Nestled along the Nggeng stream and amid beautiful, pristine forest, the research station of Lalut Birai offers basic research facilities and accommodation for visitors. It is currently managed by a local committee in Long Alango. A short boat ride will take tourists from Long Alango to the estuary of the Nggeng River. From there, tourists will follow a forest trail to the research station. Short and long stays at Lalut Birai can be arranged with the local committee. Around the station, steep trails take tourists deeper into the forest to witness a rich animal life.

Terletak di pinggir sungai Enggeng dan di tengah-tengah hutan alam yang asli dan indah, Stasiun Penelitian Hutan Lalut Birai ini menyediakan akomodasi dan fasilitas penelitian untuk para pengunjung. Stasiun ini sekarang dikelola oleh panitia lokal di Long Alango (BPTU). Perjalanan singkat dengan perahu akan mengantarkan pengunjung dari Desa Long Alango ke kuala Sungai Enggeng. Dari situ, wisatawan akan menapaki jalan hutan menuju stasiun. Lamanya kunjungan di Lalut Birai dapat diatur dengan panitia lokal. Di sekitar stasiun, ada beberapa jalan setapak agak curam yang akan membawa wisatawan lebih dalam ke tengah hutan untuk melihat aneka kehidupan binatang.liar.

Roundtrip from Long Alango: 3-4 hours

Difficulty of the trek: easy to medium

Things to bring: good hiking shoes, insect repellent, drinking water, sunhat, long sleeves are also recommended.

Perjalanan PP dari Long Alango: 3-4 jam

Tingkat kesulitan trek : mudah ke sedang

Barang yang perlu dibawa : sepatu hiking bagus, obat nyamuk, air minum, topi, dan baju lengan panjang.

(FOTO LALUT BIRAI AND FOREST)

2. Long Berini

Performances of traditional dances and old rituals can be arranged in Long Berini with the local cultural committee. The committee works closely with the Tourism Office in Malinau. Tourists can spend a few hours or one day in Long Berini learning about traditional wood carving, listening to the music of sampe’, the traditional Dayak guitar, or visiting the ancient burial site of the Ngorek people across the river from the village.

Penampilan tarian tradisional dan ritual-ritual kuno dapat diatur dengan Badan Pengurus Kesenian di Long Berini. Badan Pengurus ini bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan di Malinau. Wisatawan dapat menghabiskan waktu beberapa jam atau satu hari di Long Berini untuk mempelajari pengukiran kayu tradisional, mendengarkan musik sampe’, gitar tradisional Dayak, atau mengunjungi areal kuburan batu kuno Dayak Ngorek di seberang Desa Long Berini.

Distance from Long Alango: 2 hours (by boat and on foot)

Difficulty of the walk: easy

Things to bring: hiking shoes, drinking water, sunhat, long sleeves are also recommended.

Jarak dari Long Alango : 2 jam (dengan perahu ketinting dan jalan kaki)

Tingkat kesulitan perjalanan : mudah

Barang yang perlu dibawa : sepatu hiking, air minum, topi, baju lengan panjang.

(FOTO DANCES AND CARVING AND STONE BURIAL IN LONG BERINI)

3. Apau Ping and the grasslands

Apauping Grassland

Apauping Grassland

The grassland of Long Tua, upstream from Apau Ping, are a unique ecosystem home to one of the last remaining populations of wild cattle (banteng) in Borneo. Other wildlife like deer and wild pigs can be easily seen graze early in the morning or in the late afternoon. The area has been traditionally managed and regularly burned by local people to maintain its ecological functions. A hut built by the ecotourism committee at the estuary of the Tua River provides basic overnight accommodation for wildlife watchers and trekkers heading to the Krayan.

Apau Ping dan Padang Rumput Long Tua

Padang Rumput di Long Tua, sebelah hulu Apau Ping, merupakan ekosistem (habitat) unik untuk satu dari populasi banteng liar (Bos javanicus) yang tersisa di Borneo. Kehidupan liar lainnya, seperti rusa dan babi hutan dapat dengan mudah diamati merumput pada pagi atau sore hari. Kawasan ini telah dikelola secara tradisional oleh masyarakat lokal untuk mempertahankan fungsi ekologinya. Sebuah pondok dibangun oleh Panitia Ekowisata di kuala sungai Tua sebagai tempat persinggahan dan menginap bagi yang ingin mengamati kehidupan liar dan bagi yang ingin meneruskan perjalanan menuju ke Krayan.

Distance from Apau Ping: 2 hours (by boat and on foot)

Difficulty of the trek: medium

Things to bring: good hiking shoes, drinking water, sunhat, insect repellent, long sleeves are also recommended.

Jarak dari Apau Ping: 2 jam (dengan perahu ketinting dan berjalan kaki)

Tingkat kesulitan perjalanan : sedang

Barang yang perlu dibawa : sepatu hiking bagus, air minum, topi, penolak serangga, baju lengan panjang.

How to get there

Akses ke Pujungan dan Bahau Hulu

The easiest access to Pujungan is by big motorized trading boats up the Kayan and Bahau rivers from the town of Tanjung Selor, Bulungan District, or from the village upriver of Long Bia. Several rapids make the navigation challenging. Information on departing boats can be sought from traders in Tanjung Selor and Long Bia. The boat trip is part of the real river adventure. The trip can take one full day to or 1 ½ day with overnight stay in one of the several shelters along the Bahau River. From Long Pujungan, small motorized canoes will take tourists further upriver to Long Jelet and Long Alango. Transportation upriver is arranged by the local Ecotourism Committee in Long Pujungan.

Akses termudah mencapai Pujungan adalah dengan menggunakan perahu dagang besar yang mudik sungai Kayan dan sungai Bahau dari Kota Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, atau dari desa Long Bia di hulu sungai. Beberapa jeram yang dilewati akan membuat pelayaran menjadi penuh ketantangan dan keasyikan. Informasi mengenai keberangkatan perahu bisa didapatkan dari pedagang-pedagang di Tanjung Selor dan Long Bia. Perjalanan dengan berperahu adalah bagian dari petualangan sungai yang sebenarnya. Perjalanan bisa ditempuh dalam sehari penuh atau 1 ½ hari dengan bermalam di salah satu pondok persinggahan di sepanjang Sungai Bahau. Dari Long Pujungan, perahu ketinting akan membawa wisatawan lebih jauh ke bagian hulu sungai menuju Long Jelet dan Long Alango. Transportasi ke bagian hulu sungai diatur oleh Panitia Ekowisata di Long Pujungan.

Tanjung Selor can be reached by regular speed-boat service from Tarakan. Tarakan is connected daily by plane to Balikpapan, Jakarta and Surabaya.

Tanjung Selor dapat dicapai dengan speed boat yang rutin berangkat dari Tarakan. Tarakan terhubung dengan penerbangan setiap hari ke Balikpapan, Jakarta dan Surabaya.

It is also possible to charter MAF flights from Malinau to the airstrips of Long Pujungan or Long Alango. This might be more expensive but ideal for a small group of travelers (3-4 people). Charter flights must be arranged ahead of time with MAF (Missionary Aviation Fellowship) in Tarakan.

Cara lain adalah dengan mencarter pesawat MAF dari Malinau ke lapangan terbang perintis di Long Pujungan atau Long Alango. Biaya mencarter pesawat memang akan lebih mahal tetapi cara ini sangat ideal untuk wisatawan berkelompok kecil (3-4 orang). Bookingan harus dilakukan jauh hari sebelumnya dengan pihak MAF (Missionary Aviation Fellowship) di Tarakan.

Transportation fees for tourists from Long Pujungan (sub-district) to the Hulu Pujungan area (2005-2006):

Long Pujungan-Long Pua Rp 300,000/boat (up to two tourists)

Long Pua-Long Jelet Rp 300,000/boat (up to two tourists)

Long Pujungan-Ketaman Rp 200,000/boat (up to two tourists)

Biaya transportasi untuk wisatawan dari Long Pujungan (kecamatan) ke daerah Hulu Pujungan (2005-2006):

Long Pujungan-Long Pua Rp 300,000/perahu (1-2 orang wisatawan)

Long Pua-Long Jelet Rp 300,000/perahu (1-2 orang wisatawan)

Long Pujungan-Ketaman Rp 200,000/perahu (1-2 orang wisatawan)

Homestay and Guide Fees in Hulu Pujungan (2005-2006)

Tarif Homestay dan Pemandu di Hulu Pujungan (2005-2006)

Accommodation and meals Rp 55,000/day/person

Guide Rp 50,000/day

Akomodasi dan makan Rp 55,000/hari/orang

Pemandu Rp 50,000/hari

Homestay and Guide Fees in Apau Ping (2005-2006)

Tarif Homestay dan Pemandu di Apau Ping (2005-2006)

Accommodation and meals Rp 80,000/day/person

Guide Rp 75,000/day

Akomodasi dan makan Rp 80,000/hari/orang

Pemandu Rp 75,000/hari

For further information, please contact:

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi :

Tourism Office, Malinau District

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malinau

Ecotourism Committee Hulu Pujungan in Long Pujungan, Kecamatan Pujungan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur.

Panitia Ekowisata Hulu Pujungan di Long Pujungan, Kecamatan Pujungan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur

Badan Pengelola Tana Ulen di Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur

Ecotourism Committee Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur

Panitia Ekowisata Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur

WWF-Indonesia Kayan Mentarang National Park, Jalan Raja Pandita No.89 RT.07 Tanjung Belimbing, Malinau. Ph: 0553-21523

Or check the web-site: www.borneo-ecotourism.com

Tags: ,

Incoming search terms

It's very calm over here, why not leave a comment?

Leave a Reply




Pelatihan GIS, Kajian Keruangan, KLHS, HCVF